angel

graphieqq

graphiek

graphicwafiq1

graphicwafiq

Lirik lagu Indonesia

Ungu – Dilema Cinta

Seberapa salahkah diriku
Hingga kau sakiti aku begitu menusukku
Inikah caramu membalas
Aku yang selalu ada saat kau terluka
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
Seberapa hinanya diriku
Hingga kau ludahi semua yang ku beri untukmu
Tak ada satu pun perasaan yang mampu membuatku begitu terluka

Namun ku terlanjur mencintai dirimu
Terlambat bagiku pergi darimu
Bagiku terlalu indah perasaan itu
Tak mudah untukku menjauh darimu

Telah ku coba segala cara
‘Tuk bahagiakan kamu
Merebut hatimu
Namun tak semudah yang ku bayangkan
Bila kau tak inginkan ku ’tuk di sisimu

Tak pernah kurasakan sebelumnya
Menginginkan dirinya hingga ku tak kuasa
Meyakini hatiku bahwa ku mampu berlalu

Namun ku terlanjur mencintai dirimu
Terlambat bagiku pergi darimu
Bagiku terlalu indah perasaan itu
Tak mudah untukku menjauh darimu

Namun ku terlanjur mencintai dirimu
Terlambat bagiku pergi darimu
Bagiku terlalu indah perasaan itu
Tak mudah untukku menjauh darimu

Lirik

Gigi – My Facebook

Berawal dari facebook baruku
Kau datang dengan cara tiba-tiba
Bekas kekasih yang lama hilang
Satu dari kekasih yang terbaik
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
Mungkin waktu yang ku persalahkan
Mungkin saja keadaan yang salah
Terpikir hati untuk mendua
Tapi nurani tak bisa mendua

[*]
Ku hanya bisa membagi kisah-kisah lama
Ku hanya bisa membagi cerita nostalgia

[**]
Cuma itu yang ku berikan
Cuma itu yang ku bisa persembahkan
Karna aku ada yang punya
Tapi separuh hati ini untukmu

Ku bisa saja putuskan dia
Ku bisa menutup semua cintaku
Tapi apakah kau pun setuju
Menyakiti seorang manusia

Back to [*][**]

Ku hanya bisa membagi kisah-kisah lama

Back to [**]

Berawal dari facebook baruku
Kau datang dengan cara tiba-tiba hmmm

Tahun Baru Islam

Mari Kita “Peringati” Tahun Baru!

Pertama kali Umar bin Khattab berniat meletakkan Kalender tahun Islam, ia mengajak musyawarah para sahabat untuk menentukan momentum apa yang paling tepat untuk dijadikan patokan awal tahun tersebut; apakah kelahiran Rasul, diangkatnya Muhammad saw. menjadi Rasul, wafatnya Rasul, atau Hijrah Rasul dari Makkah ke Madinah? Hingga akhirnya mereka sepakat bahwa Hijrah merupakan event paling tepat untuk mengawali sistem kalender Islam tersebut yang hingga kini dikenal dengan sebutan kalender Hijriyah.

Jika kita sadari, esensi hijrah itu sendiri bukanlah sekedar eksodus umat Islam dari Makkah menuju Madinah, melainkan upaya penyelamatan ideologi bersama dari serangan kaum kafir Makkah, yang akhirnya teritorial Madinah dapat dijadikan markas untuk aplikasi hukum Islam dalam bentuk ibadah-muamalat hingga urusan keluarga dan Negara. Oleh karenanya bukan tanpa alasan jika Umar bin Khattab menjadikan Hijrah sebagai tonggak sejarah umat Islam.

Itulah yang perlu kita sadari sekarang, bahwa kita sebagai umat Islam memiliki kesepakatan akidah yang sama, syariat yang sama, dan tujuan yang sama. Maka apa pun perbedaan yang terjadi antara umat Islam selama itu hanya berkisar tentang “kulit luar” saja tidaklah perlu dijadikan alasan untuk berpecah-belah.

Salah satu sebab yang memicu terjadinya perpecahan tak jarang berangkat dari ikhtilaf cabang syariat yang pada dasarnya itu merupakan konsekuensi logis dari upaya pemahaman para mujtahid terhadap Al-Qur’an maupun Sunnah. Bahkan perbedaan telah terjadi jauh ketika masa Rasulullah dan para salaf shalih. Pun demikian, perbedaan pendapat tersebut tak mencegah mereka untuk tetap menjadi saudara seiman yang tetap rukun.

Contoh tersebut bisa kita lihat ketika imam Syafi’i menunaikan shalat subuh bersama penganut madzhab Hanafi di masjid Imam mereka (Imam Abu Hanifah) di Baghdad. Dengan jiwa besar beliau meninggalkan pendapatnya sendiri dan tidak membaca doa qunut demi menghormati pendapat almarhum Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya. Tapi berbeda dengan dahulu, zaman sekarang tak sedikit dijumpai orang-orang yang –katanya– mengikuti madzhab Syafi’i namun hanya gara-gara masalah qunut bisa jadi ribut dan saling “menikam.”

Selain perbedaan pendapat dalam cabang syariah, terkadang fanatisme kelompok tertentu menyebabkan perpecahan yang juga tidak remeh. Lihat saja di negeri kita yang sangat penuh dengan parpol, ormas, lembaga, front, forum atau kesatuan apa sajalah yang menyandingkan nama mereka terhadap Islam dan mengaku memperjuangkan Islam. Namun ketika mereka saling bertemu dapat disaksikan betapa sengitnya perdebatan antar mereka yang terkadang sampai pada tahap mencaci dan menganggap diri sendiri paling benar. Entah sesungguhnya ideologi Islam yang mereka perjuangkan atau kelompoknya?

Allah saja dalam surat Thaha ayat 44 memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun –‘alaihimassalam– untuk berucapkata dengan lemah-lembut terhadap fir’aun yang jelas-jelas setan paling laknat, lalu bagaimana mungkin seorang muslim begitu fasihnya menggunjing saudaranya yang telah mengikrarkan dua syahadat? Itu sebabnya kacamata fanatisme dapat membutakan mata, sehingga tidak dapat mengambil kebaikan dari orang yang telah dianggap buruk dan tidak bisa memilah keburukan dari orang yang terlanjur dianggap benar.

Hasan al-Banna pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin dalam poin ke delapan dari Ushul al-‘Isyrin-nya menyerukan bahwa perbedaan pendapat dalam permasalahan cabang fikih tidak perlu dijadikan sebab untuk berpecah-belah dalam beragama. Begitu juga Taqiyyuddin an-Nabhani pendiri gerakan Hizbut Tahrir –yang juga semasa dengan Hasan al-Banna ketika belajar di Darul Ulum cabang Universitas Al-Azhar kala itu– terlihat jelas dari puluhan karanganannya akan azzamnya yang kuat untuk persatuan umat.

Hingga kini beberapa parpol dan pergerakan Islam di berbagai negara termasuk Indonesia banyak terinspirasi dari dua tokoh tersebut. Begitu juga dua tokoh nasional yang cukup berpengaruh; KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan selaku pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia –yang keduanya sempat menuntut ilmu di Makkah dan menjadi murid Syaikh Ahmad Khatib– tersirat dari pancaran ilmu mereka yang mendalam tentang bagaimana menyikapi perbedaan dan keberagaman. Oleh karenanya mereka tidak pernah cek-cok hanya gara-gara masalah rukyat atau hisab.

Namun begitulah, terkadang murid suka “bandel” akan ajaran gurunya, pengikut seringkali membelot dari ajaran pimpinannya. Atau mungkin ini tafsiran dari sabda Rasulullah saw. 14 abad silam bahwa akan datang suatu masa di mana kaum muslimin dikepung dari berbagai penjuru layaknya hidangan di atas meja, memang jumlah umat muslimin saat itu sangat banyak namun sama sekali tak memiliki kualitas, ibarat buih laut yang selalu dihempas ombak ke pinggir pantai, tak berbobot walaupun sangat “ramai.”

Hal kedua yang dapat dipahami dari arti sebuah hijrah adalah perpindahan dari era kebodohan (jahiliyyah) menuju era pencerdasan. Jika dulu orang Arab desebut bodoh karena suka mabuk-mabukan dengan perasan anggur dan kurma, maka istilah apa yang lebih tepat jika sekarang mabuk bisa dengan vodka, whisky hingga ganja dan ekstasi. Jika dulu orang Arab suka membunuh bayi perempuan, maka kini tak jarang jika bayi belum lahir pun sudah dibunuh dan diaborsi.

Jika dulu pencuri dipotong tangannya karena mengambil 2 dinar, maka kini 2 triliyun pun bisa diambil oleh para pencuri berdasi. Jika dulu perzinahan hanya dapat dilakukan berbeda jenis antara wanita dan lelaki, maka kini “perzinahan” bisa dilakukan antar sesama jenis, bahkan dilegitimasi dan bangga lagi. Na’udzubillah.

Kebodohan seperti ini jelas merupakan sebuah musuh bersama yang seluruh kaum muslimin sepakat untuk memeranginya, baik sponsornya dari orang non-Islam yang seratus persen kafir maupun orang yang berlabel Islam tapi berideologi kafir. Baik promotornya dari musuh di luar “selimut” maupun di dalam “selimut.” Akan tetapi sebagai manusia biasa yang bukan Malaikat dan bukan Rasul kita hanya diperintah untuk menghukumi seseorang dari aspek dzahir eksternal saja, sedangkan aspek batin internal adalah urusan dia pribadi dengan Yang Maha Mengetahui di hari nanti.

Jika telah dipahami adanya common enemy yang wajib diperangi bersama, maka tidak mustahil kalau kelompok Islam yang menjamur itu dapat saling “patungan” untuk sekedar mendirikan stasiun TV Islam Indonesia sebagai corong dakwah, atau menciptakan produk-produk alternatif yang lebih bermutu dari produk israel yang telah diboikot. Namun jika belum, maka tak usah terlalu berharap mengharamkan film Hollywood jika sinetron lokal berbau syirik saja tidak bisa dicekal.

Tidak perlu berapi-api mengharamkan bank konvensional jika masih banyak bank “Islami” bahkan BMT yang menggunakan konsep riba namun dibiarkan beroperasi menipu rakyat.

Itulah sesungguhnya esensi daripada hijrah, yaitu kesepakatan akan akidah yang sama, menuju perbaikan yang sama, dan memiliki musuh yang sama. Namun bagaimana pun upaya manusia, perbedaan memang tak akan dapat dilebur menjadi satu jenis.

Oleh karenanya, kita hanya diperintah untuk mengolah keberagaman ini menjadi sebuah “bangunan” yang saling menguatkan. Biarlah yang pasir tetap menjadi pasir, batu menjadi batu. Yang kita harapkan adalah komposisi perpaduan antara batu, pasir, bata dan semen untuk membentuk sebuah bangunan kokoh bernama “Umat Islam.”

Dengan demikian, “memperingati” tahun baru Hijriyah bukanlah seperti umumnya peringatan tahun baru Masehi dengan ritual kembang apinya yang kurang kontemplatif. “Memperingati” tahun baru Hijriyah juga berarti kilas-balik sejarah dan memahami serta menerapkan filosofi hijrah sebagai sebuah titik-tolak pembebasan umat manusia dari kebodohan menuju pencerdasan akal dan hati.

“Memperingati” tahun baru Hijriyah juga berarti membangun paham positif untuk merajut dan memperkokoh kalimah sawa’ antar sesama Muslim. Oleh karenanya, mari kita “peringati” tahun baru 1431 Hijriyah!

MS. Yusuf al-Amien; Mahasiswa Jurusan Ushul Fiqh Universitas Al-Azhar Cairo

YM & FB :  yusuf_677 at yahoo.com

Hukum Merayakan Hari Valentine

Merayakan, Memberi selamat Bolehkah?

Memasuki bulan Februari, kita menyaksikan banyak media massa, mall-mall, pusat pusat hiburan bersibuk ria berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar acara-acara pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine’s Day atau biasanya disebut hari kasih sayang. Pada tanggal 14 Februari itu mereka saling mengucapkan “Selamat hari Valentine”, berkirim kartu, cokelat dan bunga, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta.
Sejarah, Asal-Usul dan Latar Belakang

Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi terkenal adalah kisah Pendeta St. Valentine yang hidup di zaman Raja Romawi Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati St. Valentine karena menentang beberapa perintahnya. Claudius II melihat St. Valentine mengajak manusia kepada agama Nasrani, lalu memerintahkan untuk menangkapnya.

Dalam versi kedua, Claudius II melihat bahwa para bujangan lebih tabah dalam berperang daripada yang telah menikah yang sejak semula menolak untuk pergi berperang, lalu dia mengeluarkan perintah yang melarang pernikahan. St. Valentine menentang perintah ini dan terus mengadakan pernikahan di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui dan dipenjarakan. Di penjara dia berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan “Dari yang tulus cintanya, Valentine.” Hal itu terjadi setelah anak tersebut memeluk agama Nashrani bersama 46 kerabatnya.

Versi ketiga, ketika agama Nasrani tersebar di Eropa, di salah satu desa terdapat sebuah tradisi Romawi yang menarik perhatian para pendeta. Dalam tradisi itu para pemuda desa selalu berkumpul setiap pertengahan bulan Februari. Mereka menulis nama-nama gadis desa dan meletakkannya di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak itu dan gadis yang namanya keluar akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan “Dengan nama tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini.” Akibat sulitnya menghilangkan tradisi ini, para pendeta memutuskan mengganti tulisannya menjadi “Dengan nama Pendeta Valentine” sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nasrani.

Saudaraku, itulah sejarah Valentine’s Day yang sebenarnya (berdasarkan data yang ada -ed), yang seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut Hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat, atau hanya ikut-ikutan semata? Bila demikian, sangat disayangkan banyak remaja Islam yang terkena penyakit mengekor budaya Barat dan acara ritual agama lain. Bahkan saat ini beredar kartu-kartu perayaan keagamaan ini dengan gambar anak kecil dengan dua sayap terbang mengitari gambar hati sambil mengarahkan anak panah ke arah hati yang sebenarnya itu merupakan lambang tuhan cinta bagi orang-orang Romawi! Padahal Alloh berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya.” (QS. Al Isro’: 36)

Bolehkah Memperingati Hari Valentine?

Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah melakukan perbuatan kekafiran. Adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rohimahulloh berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamer atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Alloh.” Allohu a’lam bish showab.

Keadilan Tuhan

Aku bersyukur buat Tuhanku… bahwa ketika aku dilahirkan… Tuhanku berkehendak untuk ketika itu… saat yang sama dimana aku terlahir…. ketika itu pula ibuku meninggalkanku untuk selamanya…
sehingga boleh dikatakan waktu / tanggal saat aku dilahirkan adalah waktu / tanggal yang sama juga saat Ibu harus pergi menghadap Tuhan untuk selamanya.
Ibu… walau kini kita tak bersama sejak pertama ibu menghadirkan aku… aku tidak pernah kehilangan kasih… aku tetap memiliki kelembutan dari dalam hati dan diri ini… karena aku dilahirkan oleh ibu… yang memiliki KASIH YANG ABADI dalam diri Ibu.. Sebuah Anugrah Abadi dari Tuhan.

Ibu.. Aku rindu dan kangen sama Ibu… walau sejak awal… tidak pernah aku melihat bayanganmu apalagi wajahmu… Kalaulah boleh aku meminta…. jangankan wajah.. walau hanya sebatas bayanganmu aku ingin melihatmu ada….. walau hanya sedetik ada dan berdiri di depanku.

Ada kerinduan amat sangat selama ini untuk merasakan kasih sayangnya…. belaian tangan lembutnya… sama seperti aku melihat orang lain begitu hangat..nyaman.. damai bahagia dalam pelukan ibu tercinta… bahkan aku melihat saat dewasa pun mereka begitu akrab… di saat yang lain wujud keakraban itu dapat kulihat ketika sang ibu menyuapi anaknya yang sudah dewasa… terbayang betapa bahagianya…. terlukis sebuah rasa bahagia yang sulit untuk diungkapkan…

Namun.. kuasa Tuhanku.. Anugrah Tuhanku… memang tidak akan pernah bisa dibayangkan… tidak dapat terpikirkan… keadilan yang luar biasa Tuhanku nyatakan dalam kehidupanku… Aku memiliki keluarga / orang tua, ibu yang begitu sayang… begitu luar biasa perhatiannya buat aku… sungguh sebuah wujud kasih yang tidak akan pernah mampu terbalaskan walau dengan apapun…. Yang luar biasanya aku sama sekali tidak memiliki hubungan kekerabatan atau pun hubungan darah / keluarga dengan mereka…

Ketika aku pergi, atau bahkan pulang kerja… atau kemana pun aku pergi… lalu kembali pulang…… Saat aku membuka pintu selalu sudah tersedia makanan minuman di meja t4 tinggalku… For this, i always remember …
Bahkan tempat dimana aku tinggal dan selanjutnya menjalani hidup dan atkifitasku itu pun disiapkan dan diberikan sementara untuk aku tempati…. TUHANKU…ENGKAU TAHU… BAHWA AKU SELALU BERDOA MEMOHON PADAMU SAYANGILAH KELUARGA INI… Aku sadar bahwa aku tidak akan pernah mampu membalas kasih dan perhatian yang begitu luar biasa besarnya dalam kehidupanku ini.

Hanya yang mampu aku berikan adalah DOAku dan yang mampu kuucapkan adalah dan Ungkapan Terima kasih yang sebesar-besarnya…

Inilah wujud keadilan Tuhan bagi Hidupku… Aku yakin hal ini pasti terjadi juga bagi sesama yang lain. Oleh karena itu bagi yang masih memiliki ibu… jangan tunggu lagi… sayangi dan bahagiakanlah ibu… Namun.. kini bagi yang tidak bersama lagi dengan ibu.. yakinlah bahwa kasih dan kelembutan hatinya akan terus dan tetap menjadi bagian dalam kehidupan anaknya. Amin.

  -->

Halaman Berikutnya »